📖 Versi AlkitabSitus ini mengutip Alkitab Terjemahan Baru (TB). Pilih versi Alkitab bahasa Indonesia lainnya untuk membaca ayat yang sama secara online.
Bantuan terjemahan

Pertanyaan yang sulit layak mendapat jawaban yang lembut.

Jika Allah Begitu Pengasih, Mengapa Ia Membiarkan Kejahatan di Dunia?

Jika Anda bertanya demikian karena Anda pernah terluka, kehilangan seseorang, menyaksikan kekejaman, atau sekadar tidak dapat mengerti mengapa Allah yang pengasih membiarkan penderitaan, Anda tidak salah bertanya. Alkitab sendiri penuh dengan orang-orang yang berseru kepada Allah dengan pertanyaan. Halaman ini tidak akan berpura-pura bahwa setiap keadaan yang menyakitkan memiliki penjelasan yang mudah.

Pertama: Allah Tidak Menyebut Kejahatan Itu Baik

Alkitab tidak mengajarkan bahwa Allah menikmati penderitaan, kekejaman, kekerasan, penyakit, kematian, atau ketidakadilan. Allah itu kudus dan baik. Kejahatan tidak boleh kita bela dengan berkata, “Allah pasti menghendaki ini.”

“bahwa Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” - 1 Yohanes 1:5 (TB)

Ada perbedaan penting antara Allah membiarkan sesuatu terjadi untuk sementara waktu dan Allah menyetujuinya. Alkitab menunjukkan Allah menentang kejahatan, menghakimi kejahatan, menghibur orang yang patah hati, dan pada akhirnya berjanji mengakhiri kejahatan untuk selama-lamanya.

1. Kasih Mencakup Pilihan yang Nyata

Allah menciptakan manusia mampu membuat pilihan yang bermakna. Ia dapat saja menciptakan makhluk yang tidak mampu memilih apa pun selain taat, tetapi ketaatan yang dipaksakan tidak sama dengan kasih yang diberikan dengan sukarela.

Kebebasan ini berarti manusia dapat memilih kebaikan, kesetiaan, pengorbanan, dan kasih - tetapi mereka juga dapat memilih mementingkan diri sendiri, kebencian, kekerasan, ketidakjujuran, dan kekejaman. Banyak kejahatan di dunia kita berasal dari manusia yang memakai kebebasannya untuk saling menyakiti.

“...pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah...” - Yosua 24:15 (TB)

Allah memberi manusia pilihan bukan berarti Ia menyetujui setiap pilihan yang mereka buat. Ia memperingatkan kita terhadap kejahatan dan memanggil kita kepada apa yang baik.

2. Dunia Tidak Seperti yang Semula Allah Ciptakan

Kitab Kejadian menggambarkan ciptaan Allah sebagai baik. Tetapi ketika manusia memberontak melawan Allah, dosa masuk ke dalam kisah manusia, dan bersama dosa datanglah kehancuran dan maut. Alkitab menggambarkan ciptaan itu sendiri menderita di bawah kehancuran itu.

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” - Roma 8:22 (TB)

Itu membantu menjelaskan mengapa penderitaan tidak terbatas pada kekejaman manusia yang disengaja. Kita juga mengalami penyakit, bencana, penuaan, kecelakaan, dan kematian di dunia yang menurut Alkitab tidak lagi berada dalam keadaan aslinya yang utuh.

3. Ada Juga Kejahatan Rohani

Alkitab mengajarkan bahwa Setan dan makhluk-makhluk rohani pemberontak lainnya menentang Allah dan berusaha menipu dan membinasakan. Setan itu nyata, tetapi ia tidak setara dengan Allah. Ia adalah makhluk ciptaan, terbatas kuasanya, dan penghakiman terakhirnya sudah dinyatakan dalam Alkitab.

Ini tidak berarti setiap peristiwa buruk otomatis harus disalahkan pada Setan. Alkitab memberi kita gambaran yang lebih besar: pilihan manusia, ciptaan yang jatuh, kelemahan kita sendiri, dan serangan rohani semuanya dapat menjadi bagian dari hidup di dunia yang rusak ini.

Baca lebih lanjut tentang Setan dan perlengkapan senjata Allah →

4. Penderitaan Bukan Bukti bahwa Allah Sedang Menghukum Anda

Ketika sesuatu yang mengerikan terjadi, kita bisa tergoda berpikir, “Allah pasti sedang menghukumku.” Tetapi Alkitab tidak mengizinkan kita membuat anggapan itu untuk setiap tragedi.

Ayub menderita hebat meskipun kitab itu menggambarkannya sebagai orang yang saleh. Dalam Yohanes 9, Yesus menolak anggapan bahwa kebutaan seorang laki-laki pasti disebabkan oleh dosa orang itu atau dosa orang tuanya.

Jika Anda terluka, Anda tidak harus mulai dengan menyalahkan diri sendiri. Anda dapat membawa pertanyaan, kemarahan, duka setelah kehilangan, dan kebingungan Anda dengan jujur kepada Allah.

5. Allah Dapat Mendatangkan Kebaikan dari Kejahatan Tanpa Menyebut Kejahatan Itu Baik

Alkitab memuat banyak kisah di mana orang bermaksud jahat, tetapi Allah bekerja melalui keadaan itu untuk mendatangkan penyelamatan, pertumbuhan, atau kebaikan yang belum dapat dilihat oleh orang-orang yang terlibat.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan...” - Kejadian 50:20 (TB)
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia...” - Roma 8:28 (TB)

Itu tidak membuat kekerasan, pembunuhan, pengkhianatan, penyakit, atau tragedi menjadi “baik.” Artinya kejahatan tidak memiliki kata terakhir. Allah sanggup mendatangkan sesuatu yang baik bahkan dari keadaan yang tidak pernah Ia minta kita pura-pura anggap baik.

6. Allah Tidak Tinggal Jauh dari Penderitaan Manusia

Kekristenan tidak memberi kita Allah yang hanya menyaksikan rasa sakit dari kejauhan. Yesus masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Ia mengalami kelaparan, penolakan, duka karena kehilangan, pengkhianatan, rasa sakit fisik, ketidakadilan, dan kematian.

“Maka menangislah Yesus.” - Yohanes 11:35 (TB)
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” - Roma 5:8 (TB)

Di kayu salib, Yesus dengan rela masuk ke dalam penderitaan manusia dan menanggung dosa kita atas diri-Nya. Jadi ketika Anda membawa rasa sakit Anda kepada Yesus, Anda tidak sedang berbicara kepada Seseorang yang asing dengan penderitaan.

7. Mengapa Allah Tidak Menghentikan Setiap Perbuatan Jahat Sekarang Juga?

Ini mungkin bagian tersulit dari pertanyaan itu. Alkitab mengajarkan bahwa Allah pada akhirnya akan menghakimi dan menyingkirkan kejahatan, tetapi Ia belum membawa sejarah kepada penghakiman terakhirnya.

Untuk saat ini, Allah terus memberi manusia waktu untuk berbalik kepada-Nya. Alkitab menggambarkan kesabaran Allah berkaitan dengan keinginan-Nya agar manusia datang kepada pertobatan.

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya... tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia tidak menghendaki supaya ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” - 2 Petrus 3:9 (TB)

Kita mungkin tetap bertanya mengapa Allah campur tangan dalam satu keadaan dan tampak diam dalam keadaan lain. Alkitab tidak memberi kita penjelasan lengkap untuk setiap tragedi secara pribadi. Iman tidak menuntut kita berpura-pura tahu apa yang belum dijelaskan Allah.

8. Kejahatan Tidak Akan Berlangsung Selamanya

Kisah Alkitab tidak berakhir dengan dunia yang tetap rusak. Penghakiman terakhir Setan digambarkan dalam kitab Wahyu, dan Allah menjanjikan masa depan di mana maut, dukacita, ratap tangis, dan rasa sakit sudah tidak ada lagi.

“Dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api...” - Wahyu 20:10 (TB)
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis atau dukacita...” - Wahyu 21:4 (TB)

Pengharapan Kristen bukanlah bahwa kejahatan itu khayalan. Pengharapannya adalah bahwa kejahatan itu sementara dan Yesus pada akhirnya akan mengalahkannya.

9. Bagaimana Jika Saya Masih Tidak Mengerti?

Anda boleh terus bertanya. Iman tidak berarti menutup pertanyaan-pertanyaan Anda. Beberapa orang yang paling setia dalam Alkitab bertanya kepada Allah, “Mengapa?”

Anda dapat berdoa sesederhana ini:

“Allah, aku tidak mengerti mengapa Engkau membiarkan ini terjadi. Aku terluka dan bingung. Jika Engkau ada di sana, tolonglah aku mengenal Engkau. Berilah aku terang secukupnya untuk langkah berikutnya.”

Allah tidak memaksa Anda untuk percaya. Anda dapat menyelidiki, membaca Alkitab, mengajukan pertanyaan, dan memutuskan bagaimana Anda akan menanggapi Yesus. Undangan itu nyata, begitu pula pilihan Anda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mungkin Anda bertanya-tanya tentang salah satu pertanyaan ini. Berikut jawaban singkat untuk membantu Anda terus melangkah.

Jika Allah itu pengasih, mengapa Ia membiarkan penderitaan?

Alkitab mengajarkan bahwa dunia kita rusak oleh dosa dan bahwa manusia memiliki pilihan yang nyata. Allah tidak menyebut kejahatan itu baik, dan Ia berjanji bahwa kejahatan tidak akan berlangsung selamanya.

Apakah setiap hal buruk yang terjadi adalah hukuman dari Allah?

Tidak. Alkitab tidak mengajarkan bahwa setiap penyakit, kecelakaan, atau tragedi berarti Allah sedang menghukum orang itu.

Di mana Allah ketika saya terluka?

Yesus memahami rasa sakit, duka, pengkhianatan, dan penderitaan. Anda dapat membawa ketakutan dan luka Anda kepada-Nya, bahkan ketika Anda tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi.

Jawaban Singkat

Mengapa Allah yang pengasih membiarkan kejahatan? Alkitab memberi kita beberapa bagian dari jawabannya: Allah menciptakan manusia dengan pilihan yang nyata; manusia hidup dalam ciptaan yang jatuh dan rusak; kejahatan rohani itu ada; Allah sabar dan belum membawa penghakiman terakhir; Ia dapat mendatangkan kebaikan bahkan dari keadaan yang mengerikan; dan Ia sendiri masuk ke dalam penderitaan kita melalui Yesus Kristus.

Tetapi kekristenan tidak berkata bahwa kita akan memahami setiap tragedi dalam hidup ini. Kekristenan berkata bahwa Allah itu baik, Yesus telah masuk ke dalam penderitaan kita, kejahatan akan dihakimi, dan suatu hari Allah akan membereskan segala sesuatu.